08.00-16.00 +6285226344009 samuderajatijepara@gmail.com 5D989FFB+6285226344009
(pcs)

Pemahaman Tentang Kualitas Kayu Jati

Minggu, Juli 10th 2016.

teak-wood

Berbagai Macam Istilah Dan Kategori Pada Kayu Jati

  1. Ruang lingkup

Standar ini meliputi definisi, lambang dan singkatan, istilah, spesifikasi, klasifikasi, cara pembuatan, syarat mutu, syarat ukuran, cara uji, syarat lulus uji, syarat penandaan dan pengemasan sebagai pedoman pengujian kayu gergajian Jati (Tectona grandis L.f.) yang diproduksi di Indonesia.

  1. Definisi

Kayu gergajian Jati adalah kayu persegi empat dengan ukuran tertentu yang diperoleh dengan menggergaji kayu bundar Jati atau kayu Jati lainnya.

  1. Lambang dan Singkatan

3.1.  Ø   adalah diameter cacat           3.13. bbp adalah beberapa

3.2.  %   adalah persen                   3.14. klp adalah kelompok

3.3.  @   adalah masing-masing            3.15. dub adalah diluar ukuran baku

3.4.  /   adalah dan atau                 3.16. dlm adalah kedalaman

3.5.  t   adalah tebal kayu gergajian     3.17. btg adalah batang

3.6.  l   adalah lebar kayu gergajian     3.18. atp adalah asal tidak putus

3.7.  p   adalah panjang kayu gergajian   3.19. att adalah asal tidak tembus

3.8.  I   adalah isi kayu gergajian       3.20. plk adalah panjang lengkungan/panjang linier

3.9.  bh  adalah buah                     3.21. sdt adalah sudut

3.10. ml  adalah muka lebar               3.22. jr  adalah jarak

3.11. mt  adalah muka tebal               3.23. pj  adalah panjang cacat

3.12. atm adalah asal tidak mengotori

  1. Istilah

4.1.  Alur (Al) adalah suatu lekukan pada permukaan kayu yang berasal dari cacat alur pada kayu bundarnya.

4.2.  Alur Hitam (Alh) adalah alur yang berwarna hitam pada permukaan kayu yang disebabkan oleh endapan yang berwarna gelap pada pori kayu.

4.3.  Alur Mata Kayu (Amk) adalah cacat pada kayu gergajian jati, mempunyai alur yang rata, berasal dari cacat mata kayu atau bekas mata kayu yang digergaji secara flat sawn. Alur mata kayu dianggap cacat apabila sudah memutus serat.

4.4.  Alur minyak (Alm) adalah alur yang berwarna coklat kehitaman mengikuti lingkaran tahun.

4.5.  Bekas Hati adalah alur berbentuk setengah lingkaran yang berisi gabus atau kapur.

4.6.  Bontos (Bo) adalah penampang melintang pada kedua ujung kayu.

4.7.  Bundel adalah ikatan kayu gergajian yang terdiri dari sortimen atau satuan ukuran, mutu, jenis, yang ditentukan.

4.8.  Cacat adalah suatu kelainan yang terdapat pada kayu yang dapat mempengaruhi mutu kayu tersebut.

4.9.  Cacat sehat (Cs) adalah cacat yang bebas dari pembusukan atau gejala-gejalanya.

4.10.  Cacat tidak sehat (Cts) adalah cacat yang sudah mengalami pembusukan atau gejala-gejalanya.

4.11.  Diameter cacat (Ø) adalah rata-rata dari garis tengah terpendek dan garis tengah terpanjang dari suatu ccat.

4.12.  Doreng adalah kelainan warna genetis kayu, berasal dari perubahan zat-zat kimiawi dan lain-lain yang biasanya berwarna hitam kusam, pada umumnya mengikuti lingkaran tumbuh/tahun.

4.13.  Gabeng adalah keadaan yang menyerupai rapuh yang dapat dilihat pada bontos kayu, dengan penampakan yang kasar dan biasanya lebih ringan dibanding dengan kayu lainnya.

4.14.  Gerowong (Gr) adalah lubang yang terdapat pada salah satu atau kedua bontos.

4.15.  Gubal (Gu) adalah bagian dari kayu yang terdapat diantara kulit dan kayu teras dengan warna pada umumnya lebih muda/terang dari kayu terasnya serta kurang awet. Gubal yang sudah memperlihatkan tanda-tanda pembusukan disebut gubal tidak sehat.

4.16.  Hati (H) adalah bagian dari pusat kayu termasuk gabus.

4.17.  Kayu kurang (Scant Sawn) adalah kayu gergajian yang pada saat dilakukan pemeriksanaan/pengujian mempunyai ukuran yang kurang dari ukuran baku. Ini diakibatkan pada waktu menggergaji tidak diberikan ukuran lebih bahkan kurang dari ukuran baku.

4.18.  Kayu lebih (Full Sawn) adalah kayu gergajian yang pada saat dilakukan pemeriksaan/pengujian masih mempunyai ukuran lebih dari ukuran standar. Ini berarti bahwa sewaktu menggergaji diberikan ukuran lebih dari ukuran baku.

4.19.  Kayu pas (Bare Sawn) adalah kayu gergajian yang pada saat dilakukan pemeriksaan/pengujian mempunyai ukuran yangtepat sama dengan ukuran baku. Ini berarti pada waktu menggergaji tidka diberikan ukuran lebih yang cukup diatas ukuran baku.

4.20.  Kuku macan (Km) adalah cacat pada kayu gergajian jati, berupa titik hitam yang berkelompok berasal dari cacat buncak-buncak pada kayu bundar, yang dimaksud 1 (satu) kelompok terdiri dari tiga titik atau lebih, asalkan masih dalam kotak yang berukuran 1 cm x 1 cm.

4.21.  Kulit tumbuh (Kt) adalah kulit yang sebagian atau seluruhnya tumbuh di dalam kayu yang biasanya terdapat pada alur atai disekeliling mata kayu.

4.22.  Lengkung (Le) adalah suatu penyimpangan dari bentuk lurus pada arah tebal kayu.

4.23.  Lubang gerek (Lg), adalah lubang yang disebabkan oleh serangga oleng-oleng, inger-inger atau penggerek lainnya.

4.24.  Lubang inger-inger adalah lubang yang terdapat pada kayu yang disebabkan oleh serangga inger-inger (Calotermes tectonae Dam).

4.25.  Lubang kapur adalah lubang yang terdapat pada kayu berisi kapur atau bekas kapur.

4.26.  Lubang pelatuk adalah bagian lubang yang terdapat pada kayu yang disebabkan oleh burung pelatuk.

4.27.  Mata kayu (Mk) adalah bagian dari lembaga/cabang atau ranting yang tumbuh dalam kayu, pada umumnya dengn penampang lintang berbentuk bulat atau lonjong.

4.27.1.  Mata kayu sehat (Mks) adalah mata kayu yang mempunyai permukaan yang sama keras atau lebih keras daripada kayu disekitarnya. Tidak ada tanda pembusukan dan biasanya berwarna lebihgelap daripada warna kayu sekitarnya.

4.27.2.  Mata kayu busuk (Mkb) adalah mata kayu yang penampangnya lunak karena pembusukan. Bila busuknya sudah lanjut, maka kayu dapat berlubang atau mata kayunya lepas.

4.28.  Membusur adalah pelengkungan pada permukaan kearah panjang kayu sehingga merupakan busur.

4.29.  Mencawan adalah pelengkungan kayu pada arah lebar kayu, sehingga merupakan cawan.

4.30.  Mengotori adalah kayu yang mengandung cacat yang luasnya 25% atau lebih dari luas permukaan.

4.31.  Muka adalah permukaan kayu gergajian, terdiri dari empat muka yaitu dua muka lebar dua muka tebal.

4.32.  Muka bersih adalah permukaan kayu yang bebas dari cacat, atau mempunyai cacat-cacat yang ringan/diabaikan.

4.33.  Muntir adalah pelengkungan kayu pada arah diagonal.

4.34.  Mutu kayu gergajian adalah kemampuan kegunaan kayu gergajian jati untuk tujuan kegunaan tertentu berdasarkan karakteristik yang dimilikinya.

4.35.  Partai adalah kumpulan kayu gergajian yang terdiri dari berbagai sortimen.

4.36.  Pecah banting adalah pecah atau luka-luka yang terjadi pada waktu penebangan.

4.37.  Pecah busur adalah pecah yang melingkari hati, tetapi kedua ujungnya tidak bertemu.

4.38.  Pecah gelang adalah pecah yang melingkari hati dan kedua ujungnya bertemu membentuk gelang.

4.39.  Persyaratan cacat adalah ketentuan-ketentuan/batasan mengenai jenis, jumlah, ukuran, lokasi dan penyebaran cacat yangdipergunakan dalam penetapan mutu.

4.40.  Pingul adalah sudut yangtidak sempurna pad asepotong kayu gergajian, sehingga penampang lintangnya tidak merupakan segi empat lagi.

4.41.  Rapuh/busuk adalah kayu yang telah mengalami kerapuhan atau pembusukan ditandai dengan kayu yang lebih lunak dan apabila tergores/tercukil mudah lepas.

4.42.  Salah potong adalah kayu yangperbedaan antara tebal tertipis dan tebal tertebal atau lebar tersempit dan lebar melebihi 3 mm.

4.43.  Salah warna adalah timbulnya warna lain daripada warna asli kayu, yang disebabkan perubahan zat-zat kimiawi dan lain-lain.

4.43.1.  Salah warna genetis, salah warna yang timbul karena sifat genetis dari pohon, yang biasanya menimbulkan warna kehijau-hijauan atau kebiru-biruan dan kemerahan berat/merah mahoni.

4.43.2.  Salah warna lainnya, salah warna yang timbul karena faktor luar bukan sifat genetis antara lain : noda cuaca, terbakar matahari dan air masuk.

4.44. Serat terpadu adalah arah serat yang tidak teratur/berlainan arahnya satu sama lain. Biasanya serta terpadu ini menyukarkan di dalam pengerjaan.

4.45.  Serat berombak (Werut) adalah permukaan kayu yang kasar diakibatkan oleh penggergajian pada kayu yang berserat tidak teratur, ini akan menyukarkan di dalam pengerjaan/pengolahan selanjutnya.

4.46.  Serat kasar adalah serat kayu yang terasa kasar sebagai akibat teknis dalam penggergajian. Biasanya tidak dianggap sebagai cacat, selama dapat halus dalam penyerutan.

4.47.  Serat lurus adalah serat kayu yang arahnya lurus atau mempunyai penyimpangan kurang dari setengah muka lebar kayu.

4.48.  Serat mahkota adalah serat kayu yang diakibatkan dari cara menggergaji, sehingga menghasilkan corak garis-garis lengkung dari lingkaran tahun pada muka lebar.

4.49.  Serat miring adalah serat kayu yang sebagian besar arah seratnya menyimpang dari arah sumbu, dengan penyimpangan mulai dari setengah muka lebar asal tidak putus.

4.50.  Serat putus adalah serat kayu yang sebagian besar arah seratnya menyimpang dari arah sumbu, dengan penyimpangan mulai dari satu sisi panjang kayu dan berakhir pada sisi panjang kayu lainnya.

4.51.  Sortimen adalah golongan kayu gergajian dengan ukuran tertentu.

4.52.  Terpisahnya serat adalah cacat pada kayu gergajian yang ditandai dengan adanya celah kearah longitudinal pada badan atau bontos.

4.52.1.  Belah adalah terpisahnya serat kayu sebagai kelanjutan dari pecah, merupakan celah terbuka dengan ukuran lebar celah lebih dari 6 mm.

4.52.2.  Pecah adalah terpisahnya serat kayu yang melebar baik menembus atau tidak menembus muka lain, dengan ukuran lebar tidak melebihi 6 mm.

4.52.3.  Retak adalah terpisahnya serat kayu yang tidak menembus muka lain, dengan ukuran tidak melebihi 1 mm.

4.52.4.  Retak angin adalah retak yang disebabkan oleh pengeringan udara.

4.53.  Tiap meter panjang (tmp) adalah suatu cara penentuan lokasi cacat yang diperkenankan pada setiap 1 m panjang kayu, yang penilaiannya dimulai dari bontos yang mempunyai cacat lebih berat.

4.54.  Toleransi adalah batas penyimpangan yang masih diperkenankan.

4.55.  Ukuran baku (nominal sizes) adalah ukuran kayu gergajian yang telah ditetapkan/disepakati sesuai dengan permintaan/kontrak.

4.56.  Ukuran lebih adalah suatu kelebihan ukuran diatas ukuran standar.

  1. Spesifikasi

Kayu gergajian jati terdiri atas 2 spesifikasi yaitu : Kayu Gergajian Kecil (KGK) dan Kayu Gergajian Besar (KGB).

5.1.  KGK terdiri dari sortimen-sortimen; papan tipis, papan lis, papan tebal, broti kecil dan skuer kecil.

5.2.  KGB terdiri dari sortimen-sortimen; broti besar, skuer besar, balok dan swalep.

Spesifikasi, sortimen dan ukuran kayu gergajian tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Spesifikasi, sortimen dan ukuran kayu gergajian jati

No. Spesifikasi Sortimen Ukuran Keterangan
Tebal (cm) Lebar (cm)
I KGK
1. Papan tipis (Board) < 50 mm > 100 mm
2. Papan tebal (Planks) > 50 mm > 150 mm t < 1/2 l
3. Papan sempit (Strips) < 1/2 l < 100 m
4. Broti kecil (Small scantlings) > 1/2 l < 150 mm
5. Skuer kecil (Small squares) = l
< 100 mm
= t
< 100 mm
II KGB
1. Broti besar (Large scantlings) > 1/2 l > 150 mm
2. Skuer besar (Large squares) = l
> 100 mm
= t
> 100 mm
3. Balok dan swalep > 100 mm > 200 mm Termasuk gergajian atau tarahan berhati
  1. Klasifikasi

Kayu gergajian jati terdiri dari 5 (lima) kelas mutu yaitu :

6.1. Mutu Utama, dengan tanda mutu “U”
6.2. Mutu Pertama, dengan tanda mutu “P”
6.3. Mutu Kedua, dengan tanda mutu “D”
6.4. Mutu Ketiga, dengan tanda mutu “T”
6.5. Mutu Keempat, dengan tanda mutu “M”

  1. Cara Pembuatan

7.1.  Kayu digergaji agar dapat menghasilkan kayu gergajian dengan mutu terbaik dan rendemen yang optimal, sisi sejajar, sudut-sudut siku, bontos dipotong siku dan rata.

7.2.  Kecuali ditentukan lain, kayu harus digergaji lebih dari ukuran baku, sehingga pada waktu pengujian ukuran kayu tidka kurang dari ukuran baku.

7.3.  Ukuran lebih yang diperkenankan pada waktu pengujian adalah :

  1. Untuk tebal dan lebar : maksimum 3 mm
  2. Untuk panjang :
    • < 1 m, maksimum 25 mm
    • >1 m, maksimum 50 mm
  1. Syarat Mutu

Penetapan mutu kayu gergajian jati ditentukan oleh persyaratan cacat, yang meliputi persyaratan umum dan persyaratan khusus.

8.1.   Persyaratan umum

8.1.1.  Tidak diperkenankan adanya cacat-cacat; rapuh/busuk, serat putus, muntir, mencawan dan membusur yang sukar diluruskan.

8.1.2.  Pada muka bersih diperkenankan adanya cacat-cacat; salah warna genetik kebiruan, urat kapur, alur hitam/alur minyak dan air masuk (water stain) asal tidak mengotori (atm), serat kasar yang halus apabila diserut, noda cuaca dan terbakar matahari, gubal segar diluar ukuran baku dan mata kayu sehat Ø < 5 mm.

8.2.   Persyaratan khusus

8.2.1.  Persyaratan khusus mutu kayu gergajian spesifikasi kayu gergajian kecil (papan tipis, papan tebal, papan lis, broti kecil dan skuer kecil) tercantum dalam Tabel 2.

Tabel 2. Syarat mutu spesifikasi kayu gergajian kecil (KGK)

No. Jenis Cacat M u t u
U P D T M
I CACAT BENTUK Mempunyai cacat lebih berat dari mutu T asal masih dapat digunakan
1. Lengkung x x x < 1% p
2. Serat miring x
II MUKA BERSIH 1 ml, 1 mt 1 ml, kecuali doreng 1 ml, kecuali kuku macan dan doreng
III CACAT BADAN
1. Mks : Jml/tmp
Ø
Jr
1 bh
< 5 mm
> 1,00 m
1 bh/2 bh
< 10 mm/< 5 mm
> 0,50 m
1 bh/2 bh
< 10 mm/< 5 mm
> 0,50 m
1 bh/2 bh
< 25 mm/< 15 mm
> 0,25 m
2. Mkb : Jml/tmp
Ø
Jr
x
x
x
x
x
x
1 bh
< 5 mm
> 0,50 m
1 bh
< 15 mm
3. Lubang gerek
– Lgk/Lgs
– Lgb
x
x
1 bh, att
x
2 bh, att ml
1 bh, att
-, att ml
-, att
4. Terpisahnya serat
– Retak
– Pecah
– Belah
x
x
x
dub
dub
x
1 ml + 2 mt
dub
x

< 40% p
x
5. Pecah banting x x x x
6. Kulit tumbuh/tmp x 1 bh, Ø < 10 mm
att
2 bh Ø < 10 mm 4 bh Ø < 40 mm
7. Lubang kapur x x 1 bh, att 2 bh
8. Gubal x 1 sdt < 1/3
ml/mt
1 ml + 1 x ½ mt
9. Pingul x x dub 1 sdt, < ¼ ml/mt
< 50% p
10. Lubang inger-inger x x x x
11. Serat berombak & berpadu x x
12. Kuku macan x 1 klp/btg
att
1 klp/btg
jr > 30 cm
< 4 klp/btg
13. Doreng x
14. Kehijauan x
15. Kemerahan x 1 ml
16. Alur mata kayu x 1 bh/btg 1 bh/btg
17. Serat mahkota tidak rapat
18. Alh/Alm/air masuk atm
19. Alur x x x x
IV CACAT BONTOS
1. Gabeng x x 1 Bo
2. Terpisahnya serat
– Retak
– Pecah
– Belah
x
x
x
x
x
x
1 Bo
x
x


x
3. Kulit tumbuh x dub dub
4. Hati x x x x

Keterangan :
– adalah tidak dibatasi/tidak dipersyaratkan
x adalah tidak diperkenankan

8.2.2.  Persyaratan khusus mutu kayu gergajian spesifikasi kayu gergajian besar (broti besar, skuer besar, balok dan swalep) dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Syarat mutu spesifikasi kayu gergajian besar

No. Jenis Cacat M u t u
U P D T M
I CACAT BENTUK Mempunyai cacat lebih berat dari mutu T asalkan masih dapat digunakan
1. Lengkung x x < 2% p < 5% pj
2. Serat miring 1 : 11 1 : 10 atp atp
II MUKA BERSIH 1 ml, 1 mt 1 ml, kecuali doreng
III CACAT BADAN
1. Mks : Jml/tmp
Diameter
Jarak
1 bh
< 20 mm
> 1 m
2 bh
< 35 mm
> 0,50 m
3 bh
< 45 mm
4 bh
60 mm
2. Mkb : Jml/tmp
Diameter
Jarak
x
x
x
1 bh
< 20 mm
> 0,80 m
2 bh
< 25 mm
2 bh
< 30 mm
3. Lubang gerek
– Lgk/Lgs- Lgb
2 bh,jr>0,6 m
att
1 bh,Ø<10 mm
att
2 bh,jr>5 m
att
2 bh,Ø<20 mm
jr>0,5 m, att
2 bh,jr>0,4 m
att
2 bh,Ø<20 mm
jr>0,4 m, att
3 bh

3 bh,Ø<30 mm
4. Terpisahnya serat
– Pecah
– Belah
x
x
pj < 20% p
pj > 10% p
pj < 40% p
pj > 20% p
pj < 50% p
pj > 30% p
5. Pecah banting x x pj < 25% p pj < 35% p
6. Kulit tumbuh/tmp 1 bh,Ø<20 mm 2 bh,Ø<30 mm
7. Lubang kapur
8. Gubal 1/5 ml/mt
pj < 1/2 p
½ ml/mt
pj < 3/4 p
1 ml + 2 x ½ mt
¼x2ml+1mt*)
9. Pingul x 1sdt,
< 1/8 ml/mt
2 sdt,
< ¼ ml/mt
3 sdt,
< 1/3 ml/mt
10. Lubang inger-inger x x < 25% p < 35% p
11. Serat berombak & berpadu x
12. Kuku macan
– p < 1 m
– p > 1 m
1 klp/btg
2 klp/btg
2 klp/btg
3 klp/btg
5 klp/btg
5 klp/btg

13. Salah warna, doreng, kehijauan, kemerahan x
14. Alh, Alm, Amk, air masuk, serat mahkota
15. Alur (balok) x bbp, jml
dlm 15%
t/l
bbp, jml
dlm 20%
t/l
bbp, jml
dlm 25%
t/l
IV CACAT BONTOS
1. Gabeng x
2. Kulit tumbuh x 1 bh/btg
1 bh/bo *)
2 bh/btg
2 bh/bo *)
3 bh/btg
3 bh/bo *)
3. Hati *) 1 bh/bo/sehat 1 bh/bo 2 bh/bo
4. Pecah hati *) 1 bh/bo 2 bh/bo 3 bh/bo
5. Pb/Pg *) 1 bh/bo,<50%t 1 bh/bo,<75%t
6. Gerowong *) x x dlm < 10% p dlm < 20% p

Keterangan :
*) adalah khusus untuk sortimen balok
–   adalah tidka dibatasi/tidak dipersyaratkan
x   adalah tidak diperkenankan

  1. Syarat Ukuran

Tidak diperkenankan adanya kayu kurang dan kayu salah potong, apabila terdapat kayu kurang dan kayu salah potong, maka kayu tersebut ditolah uji (TU).

  1. Cara Uji

10.1.   Prinsip pengujian

Pengujian dilakukan secara kasat mata (visual) terhadap kecermatan penetapan jenis kayu, ukuran dan penilaian cacat-cacat yang nampak.

10.2.   Peralatan pengujian

Peralatan pengujian yang digunakan meliputi : pita ukur, jangka sorong, pisau dan kaca pembesar.

10.3.   Syarat pengujian

10.3.1.  Kayu gergajian yang akan diuji harus :

  1. Disusun per sortimen dan dikelompokkan berdasarkan tujuan penggunaannya
  2. Bersih dari kotoran
  3. Dapat dibolak-balik sehingga semua permukaan kayu dapat dilihat secara keseluruhan

10.3.2.  Pengujian dilaksanakan pada siang hari (di tempat yang terang) sehingga dapat mengamati semua kelainan yang terdapat pada kayu.

10.3.3.  Pengujian dilakukan secara sensus (100%), sedangkan untuk pemeriksaan dilakukan terhadap kayu gergajian contoh, diambil secara acak dengan intensitas seperti tercantum dalam Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah batang kayu gergajian contoh

Populasi Intensitas
1  s/d  100 100%
101  s/d  1000 100 btg
> 1001 10%

Kayu gergajian contoh sebagaimana tercantum pada Tabel 4 dimaksud hanya untuk pemeriksaan ukuran dan mutu, sedangkan pemeriksaan jenis dan jumlah batang harus 100%.

10.4.  Pelaksanaan pengujian

10.4.1.  Penetapan jenis kayu

Penetapan jenis dilaksanakan dengan memeriksa ciri umum dan struktur anatomi kayu.

10.4.2.  Penetapan ukuran

  1. Tebal (t) diukur pada bagian tebal tertipis dengan kelipatan 1 mm
  2. Lebar (l) diukur pada bagian lebar tersempit dengan kelipatan 1 mm
  3. Panjang (p) diukur pada jarak terpendek antara kedua bontos dalam kelipatan 5 mm
  4. Isi adalah hasil pengalian antara t x l x p, dalam satuan m3, dengan ketentuan sebagai berikut:
    • Untuk kgk dalam enam desimal (enam angka di belakang koma)
    • Untuk kgb dalam empat desimal (empat angka di belakang koma)

10.4.3.  Penatapan mutu

Penetapan mutu kayu gergajian berdasarkan kepada sistem persyaratan cacat. Untuk itu diperlukan penilaian cacat yang terdapat pada kayu, baik jenis, ukuran, jumlah, keadaan dan penyebaran cacat sesuai dengan persyaratan mutunya.

  1. a) Penilaian cacat lengkung

Penilaian cacat lengkung ditetapkan dengan cara mengukur kedalaman lengkung, kemudian dibandingkan dengan panjang kayu dalam satuan persentase.

  1. b) Penilaian cacat serat miring

Penilaian cacat serat miring ditetapkan dengan cara menentukan salah satu serat miring yang arahnya dominan, kemudian ukur jarak simpang serat tersebut dan bandingkan dengan panjang serat sejajar sumbu.

  1. c) Penilaian muka bersih

Penilaian muka bersih ditetapkan dengan cara mengamati muka yang bebas cacat (kecuali cacat yang diperkenankan) pada muka lebar (ml) dan pada muka tebal (mt). Diperkenankan muk abersih pada 1 ml dan 1 mt, maksudnya satu muka lebar dan satu muk atebal harus bebas cacat (kecuali cacat yang diperkenankan), sedangkan pada muka lainnya diperkenankan adanya cacat-cacat dengan jenis, ukuran, jumlah dan penyebarannya sesuai dengan persyaratan mutunya.

  1. d) Penilaian cacat muka kayu

Penilaian cacat muka kayu ditetapkan dengan cara :

  • Mengamati keadaan mata kayu, apakah tergolong mata kayu sehat (Mks) atau mata kayu busuk (Mkb)
  • Menghitung jumlah mata kayu pada tiap meter panjang
  • Mengukur diameter mata kayu dengan merata-ratakan panjang dan lebar mata kayu yang paling besar
  • Mengukur jarak terpendek antar mata kayu sejajar sumbu kayu.
  1. e) Penilaian cacat lubang gerek

Penilaian cacat lubang gerek ditetapkan dengan cara :

  • Mengukur diameter lubang gerek untuk menentukan apakah masuk Lgk, Lgs atau Lgb
    • Lubang gerek kecil/jarum (Lgk), Ø < 2 mm
    • Lubang gerek sedang (Lgs), Ø antara > 2 mm sampai dengan 5 mm
    • Lubang gerek besar (Lgb), Ø > 5 mm
  • Menghitung jumlah dan jaraknya, kemudian amati tembus tidaknya.
  1. f) Penilaian cacat serat berombak/werut dan serat berpadu

Penilaian cacat  serat terpadu/werut dan serat terpadu ditetapkan dengan cara mengamati ada tidaknya.

  1. g) Penilaian cacat terpisahnya serat

Penilaian cacat terpisahnya serat ditetapkan dengan cara :

  • Mengukur lebar celah, untuk menentukan apakah termasuk retak, pecah atau belah.
  • Mengamati letaknya apakah di luar ukuran baku (dub), kemudian mengukur panjangnya dan bandingkan dengan panjang kayu dalam satuan persentase.
  1. h) Penilaian cacat pecah banting

Penilaian cacat pecah banting ditetapkan dengan cara mengukur panjang pecah banting, kemudian bandingkan dengan panjang kayu dalam satuan persentase.

  1. i) Penilaian cacat kulit tumbuh

Penilaian cacat kulit tumbuh ditetapkan dengan cara mengamati apakah letaknya diluar ukuran baku, kemudian menghitung jumlahnya, mengukur diameter kulit tumbuh terbesar dengan merata-ratakan panjang dan lebarnya. Penilaian cacat kulit tumbuh dilakukan pada badan dan bontos kayu.

  1. j) Penilaian cacat lubang kapur

Penilaian cacat lubang kapur ditetapkan dengan cara mengamati ada tidaknya serta tembus tidkanya cacat tersebut.

  1. k) Penilaian cacat gubal

Penilaian cacat gubal ditetapkan dengan cara mengamati letaknya apakah pada satu sudut atau lebih, kemudian diukur lebar dan tebalnya dan dibandingkan dengan muka lebar/muka tebal kayu. Untuk KGB diukur panjangnya dan dibandingkan dengan panjang kayu.

  1. l) Penilaian cacat pingul

Penilaian cacat pingul ditetapkan dengan cara mengamati letaknya apakah pada satu sudut atau lebih dan apakah di luar ukuran baku, kemudian diukur lebar dan tebalnya dan dibandingkan dengan muka lebar/muka tebal serta diukur panjangnya dan dibandingkan dengan panjang kayu dalam satuan persentase.

  1. m) Penilaian cacat lubang inger-inger

Penilaian cacat lubang inger-inger ditetapkan dengan cara mengukur panjang kayu yang terserang inger-inger dan bandingkan dengan panjang kayu dalaam satuan persentase.

  1. n) Penilaian cacat kuku macan

Penilaian cacat kuku macan ditetapkan dengan cara menghitung jumlah kelompok perbatangnya, serta diukur jarak antar kuku macan. Penilaian cacat kuku macan untu KGB dibedakan terhadap panjang kayu yang < 1 m dengan yang > 1 m.

  1. o) Penilaian cacat salah warna

Penilaian cacat salah warna ditetapkan dengan cara mengamati ada tidaknya warna yang timbul apakah berupa doreng, kehijauan, kemerahan mahoni atau salah warna lainnya seperti air masuk. Untuk salah warna kemerahan mahoni diamati lokasinya, apakah terdapat pada satu muka lebar atau lebih, sedangkan untuk salah warna lainnya diamati mengotori tidaknya.

  1. p) Penilaian ccat serat mahkota

Penilaian cacat serat mahkota ditetapkan dengan cara mengamati rapat tidaknya. Dikatakan rapat apabila jarak lingkaran tahun satu dengan yang lainnya < 20 cm, dan tidak rapat apabila jaraknya > 20 cm.

  1. q) Penilaian cacat gabeng

Penilaian cacat gabeng ditetapkan dengan cara mengamati lokasinya, apakah terletak pada satu bontos atau pada kedua bontosnya.

  1. r) Penilaian cacat alur mata kayu

Penilaian cacat alur mata kayu ditetapkan dengan cara menghitung jumlah per batangnya, kemudian diamati tembus tidaknya, cacat alur mata kayu tembus dianggap jumlah 1 buah.

  1. s) Penilaian cacat pecah hati

Penilaian cacat pecah hati hanya dilakukan terhadap sortimen balok dengan cara menghitung jumlah pecah hati pada setiap bontosnya.

  1. t) Penilaian cacat alur minyak, alur hitam dan air masuk

Penilaian cacat alur minyak, alur hitam dan air masuk ditetapkan dengan istilah asal tidak mengotori atau mengotori, disebut asal tidak mengotori (atm) apabila luas cacat kurang dari 25% luas permukaan.

  1. u) Penilaian cacat alur

Penilaian acat alur hanya dilakukan terhadap sortimen balok dengan cara mengukur kedalamannya pada setiap muka (ml/mt), kemudian masing-masing dibandingkan terhadap muka lebar/muka tebalnya dalam satuan persentase. Apabila pada setiap mukanya mempunyai lebih dari satu cacat laur, maka kedalamannya diukur yang terdalam, kemudian dibandingkan terdahap permukaan di mana alur tersebut berada, dalam satuan persentase.

  1. v) Penilaian cacat hati

Penilaian cacat hati hanya dilakukan terhadap sortimen balok dengan cara menghitung jumlah hati per bontosnya serta diamati sehat tidaknya.

  1. w) Penilaian cacat pecah busur/pecah gelang

Penilaian cacat pecah busur/pecah gelang hanya dilakukan terhadap sortimen balok dengan cara menghitung jumlah per bontosnya serta mengukur panjang lengkung (panjang liniernya) kemudian dibandingkan dengan tebal kayu dalam satuan persentase.

  1. x) Penilaian cacat gerowong

Penilaian cacat gerowong hanya dilakukan terhadap sortimen balok dengan cara mengukur kedalaman gerowong kemudian dibandingkan dengan panjang balok dalam satuan persentase. Apabila terdapat pada kedua bontosnya yang diukur hanya yang terdalam.

  1. Syarat Lulus Uji

11.1.  Toleransi penyimpangan

Pengujian dianggap lulus uji/dianggap benar apabila penyimpangan/kesalahan masih dalam batas toleransi. Besarnya toleransi, seperti tercantum pada Tabel 5.

Tabel 5. Toleransi penyimpangan

No. U n s u r Besarnya Toleransi
1. Jumlah batang 0% (tidak ada toleransi)
2. Pengukuran < 5% (dari jumlah batang)
3. Mutu < 5% (dari jumlah batang)

11.2.  Perhitungan persentase penyimpangan

Jumlah batang yang salah

% penyimpangan = —————————— x 100%

Jumlah batang yang diperiksa

  1. Syarat Penandaan

12.1.  Penandaan pada fisik kayu

Pada kayu yang telah diuji harus diberi tanda-tanda mutu dan ukuran. Apabila terjadi perubahan pada waktu pemeriksaan, maka tanda-tanda lama harus dihapus atau ditutup dengan tanda baru.

12.2.   Penandaan pada kemasan

Penandaan pada kemasan kayu gergajian harus sesuai dengan cara penandaan pada Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang pengemasan kau yang berlaku.

 

Rp 2.000.000
Rp (Hubungi CS)
Rp (Hubungi CS)
Rp (Hubungi CS)
Rp (Hubungi CS)
Rp (Hubungi CS)

Facebook Fanpage

Instagram